Ajak Anak Anda Berbelanja Yuk!

Kegiatan berbelanja bulanan mungkin memang membosankan bagi Anda. Oleh karena itu, Anda bisa mengajak anak untuk bermain sambil belajar untuk mengisi kebosanan Anda di sana.

Jangan dulu keki dengan pikiran bahwa anak akan membuat Anda kerepotan dan kewalahan berbelanja. Dengan kegiatan ini, Anda bahkan bisa memiliki banyak sekali manfaat.

Selain belanjaan bulanan Anda terpenuhi, Anda mengenalkan dunia supermarket dengan anak. Dari sana, anak bisa belajar banyak hal seperti sosialisasi, sistem jual beli, membantu orang tua dan masih banyak lagi.

Untuk itu orang tua memang harus ekstra persiapan karena belum tentu niat baik Anda disambut baik oleh anak. Anak bisa saja histeris, menolak bahkan membuat Anda kewalahan saat di supermarket.

Setiap anak memiliki kesiapan sendiri untuk bersosialisasi. Sebenarnya sejak usia 2 tahun atau fase berjalan normal, Anda sudah bisa mengajak anak ke supermarket. Anda bisa menggendongnya, mendudukannya di trolley atau menggandengnya untuk berjalan sendiri. Ini tergantung dengan kesiapan Anda dan anak.

Baca juga : Pentingnya Peran Seorang Ibu Dalam Keluarga

Selain itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat mengajak anak berbelanja di supermarket:

1. Ceritakan Supermarket

Anda bisa menceritakan terlebih dahulu mengenai supermarket dan sistem jual beli yang ada di dalamnya. Anda juga bisa meggunakan buku cerita bergambar tentang supermarket atau sekedar memberinya foto yang bisa meyakinkan anak merasa aman di sana.

Setelah itu, Anda wajib membeberkan sejumlah peraturan yang harus ditaati saat berada di sana. Berikan pengertian yang jelas dan fun namun tidak berbohong.

Misalnya seperti tidak boleh meletakkan produk di kantong celana karena tante kasir dan pak satpam harus tahu dulu apa yang diambil dan berapa harganya.

2. Buatlah Perjanjian

Anda bisa membuat perjanjian secara lisan maupun tertulis bila anak sudah bisa membaca untuk memperjelas peraturan tadi. Dengan sanksi yang wajar misalnya tidak akan lagi diajak ke supermarket, anak akan lebih waspada dan berhati-hati dengan dirinya.

Anda juga wajib membekali anak dengan tata cara bertemu orang asing. Jika bukan Anda, anak dilarang mengikuti orang tersebut misalnya. Bagian-bagian tubuh mana saja yang boleh atau tidak boleh dipegang oleh orang lain perlu Anda beritahukan juga.

3. Ajaklah Orang Dewasa Lain

Memang agak riskan bila mengajak anak ke tempat publik. Namun, ini tetap harus dilakukan karena anak memang harus sedini mungkin beradaptasi dengan dunia.

Maka akan lebih baik jika lebih dari 1 orang dewasa yang bisa menemani pergi ke supermarket tersebut. Ini penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan Anda berbelanja juga mengajari anak.

Anda bisa fokus dengan anak dan belanjaan sementara satu lagi orang dewasa, ayah misalnya bisa menjaga keamanan barang belanjaan dan membantu saat diperlukan.

Baca juga : Tips dan Cara Mengatasi Masalah Keluarga

4. Mainkan Permainan Motorik

Anda perlu mempersiapkan beberapa permainan agar anak selalu sibuk dan berperan dalam proses berbelanja. Misalnya permainan menghitung, anak bisa menghitung berapa belanjaan yang sudah diambil dan masuk ke trolley.

Dengan demikian, anak akan tetap sibuk dan senang karena merasa sedang bermain. Anda juga tidak kerepotan untuk memfokuskan perhatian anak.

5. Bawa Senjata Terakhir

Dengan segala persiapan yang Anda lakukan, bukan tidak mungkin apabila anak masih merasa risih dan tidak nyaman. Anak bisa saja takut dengan situasi dan lokasi yang masih asing.

Namun, jangan terburu-buru untuk panik. Anda harus mempersiapka senjata terakhir atau pemungkas yakni dengan mambawa sogokan sehat seperti sayur, buah yang digemarinya. Atau Anda bisa juga membawakannya mainan kesukaan.

Namun ingat, keluarkan senjata terakhir ini jika sudah diperlukan supaya anak tetap terfokus pada kegiatan belanja.

Selamat berbelanja dan bersenang-senang bersama anak Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Konsep Keluarga Yang Sakinah

Beberapa dasawarsa belakangan ini, mewujudkan konsep keluarga sakinah seringkali hanya sebuah mimpi. Bukan karena orangnya yang bodoh melainkan…