Mampir ke Desa Adat Suku Dayak Lundayeh di Long Bawan Krayan Kalimantan Utara

Keindahan alam yang luar biasa dapat kita temui di berbagai tempat di Indonesia. Salah satu daerah terpencil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Long Bawan Krayan.

Desa adat Suku Dayak Lundayeh di Kalimantan Utara ini ternyata memiliki keindahan alam yang sangat cantik dan menyimpan banyak potensi.

Letak Desa Adat Suku Dayak Lundayeh

Desa adat Suku Dayak Lundayeh termasuk dalam Desa Long Bawan yang berada di Kecamatan Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah Long Bawan ini merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian 700-1200 meter di atas permukaan laut. Long Bawan terletak berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.

Meskipun Long Bawan adalah daerah perbukitan, tetapi tanah di Long Bawan memiliki permukaan yang datar sehingga bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah dan bercocok tanam.

Bagaimana caranya untuk dapat mengunjungi tempat itu? Satu-satunya transportasi yang bisa mengantar kita ke Long Bawan adalah pesawat komersil dari Tarakan dan Kabupaten Nunukan. Rute ini dapat Anda tempuh dengan menggunakan maskapai Susi Air.

Keunggulan Long Bawan

Budidaya Beras

Tanah di Long Bawan dikenal memiliki tanah yang subur. Warga pun mengelola ladang mereka dengan sistem organik sehingga dapat menghasilkan produk yang berkualitas, seperti beras Adan Krayan.

Warga Long Bawan mulai membudidayakan komoditas beras ini karena beras Adan Krayan juga menjadi kegemaran dari Sultan Hasanah Bolkiah dari Brunei. Sehingga warga lebih banyak menjual komoditas beras mereka ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Baca juga : Merasakan Sensasi Memetik Buah dari Pohon di Hortimart Agro Center

Penghasil Garam Terbaik di Indonesia

Budidaya lain yang tak kalah berkualitas yang dihasilkan Long Bawan adalah apel dan garam gunung. Komoditas buah apel ini dikembangkan oleh kelompok tani Long Bawan karena tanah di sana yang subur.

Sedangkan garam gunung dikelola dari sumur air yang terasa asin. Hasilnya dapat menghasilkan garam super dalam kemasan yang mengandung yodium tinggi. Apabila dimasak dengan sayuran, garam ini tidak akan mengubah warna sayur tersebut.

Situs Kuburan Batu dan Batu Ukir

Selain dalam bidang pertanian, Desa Long Bawan juga menjadi tujuan wisata sejarah, berupa situs kuburan batu dan batu ukir. Situs kuburan batu yang dapat Anda kunjungi merupakan situs yang masih asli dan memiliki tinggi sekitar 1-2 meter.

Lokasi kuburan batu tersebut dahulu merupakan tempat di mana Suku Dayak Lundayeh mengadakan pesta. Pesta adat yang mereka gelar biasanya setelah mereka memenangkan perang antar desa. Mereka mengadakan pesta adat dan makan daging hingga berhari-hari.

Kuburan batu tersebut merupakan kuburan seorang bangsawan di masa lalu, di mana dia hidup sendiri dan ketika meninggal dikuburkan oleh nenek moyang mereka beserta seluruh hartanya.

Kondisi kuburan batu kini sudah berlubang di bagian tengah karena banyak para pencuri yang melubanginya ingin mengambil harta bangsawan itu. Padahal ada mitos jika siapapun yang mencoba mengambil harta itu akan mengalami kesialan hingga kematian.

Tujuan wisata lainnya adalah batu ukir yang menggambarkan tentang pahlawan Dayak Lundayeh, Upai Samaring sebelum dia pergi ke Brunei. Pada salah satu ukiran di sebuah batu di pinggir sungai di dalam hutan tampak gambar burung, manusia, dan perisai.

Batu Ukir Narit

Batu Narit merupakan media visual untuk bercerita. Batu Narit memiliki ukiran-ukiran di atasnya. Ada bentuk menyerupai ular melingkar di bagian depan. Namun Batu Narit memiliki keunikan tersendiri yang lebih dari hanya sekadar ukiran.

Cara bercerita di atas Batu Narit yaitu sembari berjalan di atasnya dan menyiramkan air. Perlahan Anda pun dapat melihat bentuk ukiran lainnya dan semakin lama semakin banyak. Inilah cara Suku Dayak menggunakan media Batu Narit untuk bercerita.

Baca juga : Tips Wisata Murah Ke Bali

Desa Pa Rupai di Long Bawan

Selain Desa Long Bawan, ada Desa Pa Rupai yang juga memiliki peninggalan Suku Dayak Lundayeh. Wisatawan harus menempuh perjalanan udara dari Bandara Nunukan sampai Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan. Perjalanan yang dibutuhkan menggunakan Susi Air untuk menuju Long Bawan dari Nunukan sekitar 1 jam.

Long Bawan yang merupakan ibukota Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat. Daerah ini berbatasan langsung dengan Malaysia sehingga saat memasuki wilayah ini akan banyak ditemui mobil berplat Malaysia.

Selain wisata alam yang memukai di Long Bawan, banyak wisatawan mancanegara yang tertarik dengan keunikan masyarakat adat Dayak Lundayeh.

Seorang kepala adat Dayak bernama Melud Baru menjelaskan dua peninggalan sejarah Suku Dayak Lundayeh, yaitu buaya tanah atau baye tana dan kuburan batu atau perupun.

Buaya tanah yang dibuat oleh masyarakat Suku Dayak sejak beratus tahun lalu itu menurut cerita dari Melud Baru, berwujud gundukan tanah yang berbentuk seperti buaya, mulai dari kepala hingga ekornya.

Buaya tanah ini memiliki makna yang sangat penting bagi Suku Dayak karena melambangkan keberanian dan kekuatan, di mana buaya bisa hidup di air dan di darat.

Perupun atau kuburan batu merupakan sebuah kuburan bagi bangsawan Dayak Lundayeh. Perupun tersebut berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 2 meter, di mana hampir seluruh bagiannya terkubur di bawah tanah hingga membentuk sebuah bukit kecil.

Luas ruangan di dalamnya mencapai 4 meter dan menjadi tempat bagi jasad bangsawan dari Suku Dayak Lundayeh untuk menyimpan seluruh harta bendanya. Di bagian pintu atau depan Perupun ditutup dengan bebatuan, mulai dari yang kecil hingga yang besar sehingga menyerupai monumen.

Para bangsawan Suku Dayak Lundayeh hidup tanpa adanya pernikahan atau tidak memiliki keturunan, sehingga mereka pun tidak memiliki ahli waris. Oleh sebab itu, jika sang bangsawan meninggal maka seluruh harta bendanya akan dimasukkan ke Perupun beserta jasadnya.

Sedangkan untuk harta peninggalan berupa hewan ternak akan dipotong dan dimasak oleh penduduk desa untuk pesta kematian sang bangsawan. Tidak ada yang berani mencuri harta benda para bangsawan yang sudah meninggal. Hal ini karena warga setempat percaya bahwa Perupun dijaga oleh Mepaa.

Mepaa merupakan sebuah sanksi alam bagi masyarakat Suku Dayak Lundayeh yang melakukan perbuatan tidak baik atau dilarang. Dalam Bahasa Indonesia, bisa jadi Mepaa ini adalah karma.

Tradisi Tato Bagi Perempuan Suku Dayak Lundayeh

Tato yang dirajah di tubuh mereka bukanlah sekedar tato untuk seni. Tato yang dirajah di tubuh seorang perempuan memberi makna sebagai tanda keberanian dan seni.

Tato juga dipercaya bisa menjaga kekencangan kulit yang membuat tubuh mereka terlihat mulus kencang meski telah berusia lanjut.

Bagi perempuan, untuk membuat tato di tubuh mereka dibutuhkan keberanian yang lebih. Sehingga tato ini menandakan keberanian.

Juga bukan sembarang tato yang dapat mengencangkan kulit. Karena Anda harus memilih dari bahan pewarna, pembuatan tato, motif tato hingga pembuat tato yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Untuk bahan tato sendiri harus diambil dari hutan perawan Kalimantan di Krayan. Bahan tersebut berupa getah langsat hutan yang dicampur dengan kayu arah pinasih untuk pewarna hitam dan untuk pewarna merah diambil dari rotan.

Agar warna merah keluar dari buah rotan, Suku Dayak Lundayeh memasukkan buah rotan yang sudah tua ke dalam bambu. Kemudian bambu itu diguncang hingga warna merah keluar dari bambu.

Baca juga : 7 Pantai Paling Indah di Bali

Motif tato Suku Dayak Lundayeh didominasi oleh perpaduan garis lengkung sehingga menghasilkan beberapa motif, seperti motif arit lepo, arit binan, arit telimeng, dan arit tabo.

Motif tato yang digunakan untuk mengencangkan kulit lebih sederhana, yaitu berupa perpaduan titik yang dibuat garis lurus memanjang di sepanjang lengan atau betis dengan jarak tertentu.

Namun seni tato ini lama-kelamaan pudar karena generasi muda Suku Dayak Lundayeh lebih suka menggunakan tato yang sifatnya temporer atau sementara untuk kegiatan tertentu saja. Mereka menggunakan tato temporer pada saat pergelaran tari atau pameran.

Tradisi Nuwi Ulung Suku Dayak Lundayeh Long Bawan Kalimantan Utara

Nuwi Ulung adalah tradisi mendirikan tiang saat memenangkan peperangan. Tiang yang didirikan tersebut terbuat dari kayu dan cukup tinggi sebagai tanda identitas wilayah mereka.

Namun tradisi Nuwi Ulung kini bukan lagi melambangkan kemenangan usai berperang antar suku. Nuwi Ulung saat ini menjadi simbol rasa syukur dan rasa persatuan antar berbagai suku dan agama di Indonesia.

Peperangan tidak hanya berbentuk perang fisik, tetapi juga perlawanan atas berbagai kekuatan jahat. Kekuatan jahat ini harus diperangi agar memberikan kemakmuran, kenyamanan, dan ketentraman bagi warga.

Salah satu contoh pendirian Nawi Ulung sebagai rasa syukur ini dilakukan saat Festival Irau yang dilaksanakan di Malinau pada Bulan Oktober 2014.

Peperangan kini tidak lagi di medan perang. Karena perang melawan keterbatasan dan keterisoliran juga membutuhkan energi yang banyak. Selama ini Suku Dayak Lundayeh masih menggantungkan hidupnya kepada negara tetangga.

Letaknya di perbatasan dengan Malaysia dan Brunei Darussalam membuat Suku Dayak Lundayeh lebih banyak mengandalkan kebutuhan hidup dari negara tetangga, dan menjual komoditasnya juga ke negara tetangga.

Oleh sebab itu, jika Anda mampir ke desa Adat Suku Dayak Lundayeh Long Bawan Kalimantan Utara ini Anda akan sangat jarang sekali melihat barang asli buatan suku tersebut. Karena sudah banyak barang-barang yang merupakan buatan Malaysia dan Brunei Darussalam.

Sebelum Nuwi Ulung digelar, dilaksanakan upacara Ngukub Fulung terlebih dulu. Upacara ini adalah upacara yang diselenggarakan untuk menjalin hubungan dengan alam agar diperkenankan membuka hutan untuk mengolah ladang dan diberikan hasil yang maksimal.

Upacara ini menyimbolkan kegiatan manusia, dari mulai mencari lokasi, menyiapkan lahan, menanam hingga menuai hasilnya.

Setelah itu barulah Nuwi Ulung digelar dengan mendirikan Ulung atau tiang di samping Buaye Tana atau patung buaya. Untuk mendirikan tiang tersebut diperlukan 4 utas tali yang besar, setiap tali dipegang oleh puluhan orang.

Setelah Ulung berdiri tegak, maka Buaye Tana dimusnahkan melalui tarian pemusnahan. Setiap orang dengan dipimpin Fadan Liu Burung, melakukan tarian sambil berpegangan pundak mengelilingi Ulung dan Buaye Tana.

Fadan Liu Burung adalah nama dan gelar dari seorang pemimpin dan pahlawan Suku Dayak Lundayeh yang menurut legenda memiliki kharisma dan kekuatan yang tak tertandingi oleh siapapun.

Makanan Khas Suku Dayak Lundayeh Long Bawan Kalimantan Utara

Jika Anda mampir ke Desa Adat Suku Dayak Lundayeh Long Bawan Kalimantan Utara, Anda harus mencicipi juga makanan khas dari penduduk asli sana, namanya Luba Laya. Luba Laya ini makanan khas Suku Dayak Lundayeh yang dijamin dapat menggoyang lidah Anda.

Luba laya bentuknya seperti lontong tapi berbeda dengan lontong yang biasa ada di Pulau Jawa. Rasanya berbeda karena terbuat dari beras organik, yaitu beras Adan Krayan. Pastinya rasanya akan lebih gurih dan sedikit manis dibanding lontong biasa.

Makanan khas Luba Laya ini dibungkus menggunakan daun titip, sejenis pohon pisang-pisangan yang biasanya ditanam untuk taman. Dengan daun itip ini membuat Luba Laya memiliki bau harum yang khas.

Tetapi ada juga Luba Laya yang dibungkus dengan daun pisang tanpa mengurangi rasa khas dari makanan tersebut.

Luba Laya ini paling enak jika Anda nikmati dengan Dorma dan Soto. Dan tidak hanya dari penduduk Indonesia saja yang menyukai makanan khas tersebut, bahkan masyarakat negara Malaysia dan Brunei Darussalam juga menyukainya.

Wisata Alam di Sekitar Long Bawan

Hutan Lindung Sungai Sesayap

Bagi Anda yang menyukai wisata alam, tentu Anda wajib mencobanya dengan menyusuri sungai, dan lokasi ini cocok untuk Anda kunjungi. Di hutan lindung ini juga terdapat hewan-hewan langka seperti orang utan, hewan pengerat, kera dan burung.

Pantai Batu Lamampu

Berlokasi di Pulau Sebatik, Batu Lamampu merupakan salah satu objek wisata unggulan Kabupaten Nunukan. Selain pantainya yang luas dan indah, di tempat ini terdapat batu besar yang timbul ketika pasang terjadi.

Museum Roemah Boendar

Selain wisata alam, di provinsi Kaltara ini juga terdapat lokasi wisata sejarah. Sesuai namanya, Museum Roemah Boendar merupakan museum yang berada di rumah yang memiliki halaman dan atap berbentuk bundar.

Museum ini merupakan museum peninggalan zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Gunung Putih

Bagi yang suka wisata ke pegunungan, Gunung Putih dapat menjadi alternatif tujuan wisata. Gunung ini disebut demikian karena merupakan gunung kapur yang berwarna putih dengan relief alami yang terlah terbentuk ribuan tahun

Tantangan sekaligus daya tarik gunung ini adalah untuk sampai ke puncaknya, para turis harus melewati gundukan anak tangga yang cukup panjang.

Bahasa Daerah di Long Bawan

Seperti yang kita ketahui bahwa Long Bawan adalah tempat di mana Suku Dayak Lundayeh tinggal sehingga bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Dayak Lundayeh. Bahasa ini juga digunakan di Brunei Darussalam dan perbatasan Sabah-Sarawak, Malaysia Timur.

Lundayeh terdiri dari 4 sub, yaitu Lun Baa’, Tana’ Lun, Sa’aben, dan Le’ngiue’. Tidak semua warga bisa menguasai Bahasa Indonesia, biasanya warga yang berusia 17 tahun sudah dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia dengan baik.

Baca juga : Tips Jalan Jalan Ke Solo

Tips Berwisata di Long Bawan

Sediakan waktu yang panjang dan budget besar untuk berlibur di wilayah perbatasan ini.
Persiapkan mental yang kuat jika berkunjung ke Long Bawan sebab wilayahnya tentu tidak seperti yang Anda duga sebelumnya.

Siapkan energi HP dan perangkat lain Anda yang berhubungan dengan listrik, usahakan full dan Anda membawa pengisi daya yang tidak perlu dicolokkan ke sumber listrik. Karena di wilayah ini listrik hanya akan menyala selama 6 jam, yaitu dari jam 6 sore hingga jam 12 malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Tips Jalan Jalan Ke Solo

Jalan-jalan ke Solo atau berwisata ke Solo, beberapa tahun belakangan ini semakin banyak diminati baik oleh wisatawan lokal…