Mengapa Motorik pada Anak Perlu Dilatih?

Anak yang pintar dan cerdas memang dambaan setiap orang tua. Namun kadang pengertian cerdas ini sangat minim sekali. Orang tua cenderung melihat bahwa anak dengan usia dini yang bisa membaca dan menghitung lebih cepat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Ini mungkin benar, namun orang tua juga harus paham bahwa perkembangan anak tidak hanya melalui pikiran yang bersifat menghafal.

Anak sebenarnya harus memiliki masa tumbuh kembang yang seimbang agar nantinya mendapatkan tumbuh kembang yang sempurna. Mulai dari keseimbangan, kekuatan otot, kelincahan hingga kecerdasan otak. Dengan demikian ketika anak mulai bersekolah, anak sudah siap untuk belajar dan memimpin dirinya sendiri tanpa bantuan orang tua yang berlebihan.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa anak yang memiliki kemampuan otak di atas rata-rata biasanya memiliki kecenderungan motorik yang tidak berkembang. Misalnya anak yang berusia 15 tahun sudah memasuki masa kuliah memiliki masalah sering jatuh. Ini artinya perkembangan motorik kasarnya tidak berkembang dengan sempurna.

Baca juga : Tips Ampuh Membentuk Perilaku Positif Anak

Kemampuan untuk seimbang dan lincah dari dalam dirinya tidak mampu menopang dirinya sendiri yang sudah beranjak remaja. Ini mungkin akan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya karena perkembangan motorik kasar dan halus pada anak hanya harus dimulai dari batita dan berangsur-angsur dilatih hingga dewasa.

Motorik kasar meliputi perkembangan otot-otot besar yang bisa membuat anak melakukan gerakan fisik dengan sempurna sesuai usianya. Anak membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan seperti berdiri, berjalan, berlari, melompat, putar balik dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah perkembangan otot-otot kecil dan koordinasi, misalnya koordinasi mata dan tangan. Motorik halus ini bisa dirangsang dengan kegiatan menggambar, menyusun puzzle, membuka dan menutup kancing dan lain sebagainya.

Anak dengan motorik halus dan kasar yang berkembang secara seimbang biasanya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ini membuat proses belajarnya juga lancar dan tidak terganggu dengan dirinya sendiri yang belum berkembang. Anak-anak yang dilatih secara seimbang seperti ini biasanya juga memiliki kehidupan yang seimbang. Tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan memiliki identitas diri yang pasti.

Tahap-tahap perkembangan motorik kasar ini tidak ada yang boleh mendahului. Misalnya anak harus bisa berjalan dulu baru melompat dan berlari. Anak juga biasanya bisa memegang cangkir dulu baru bisa menyusun puzzle atau menendang bola. Penting bagi orang tua untuk mengetahui di tahap mana anak berkembang dan tumbuh. Jangan sampai memaksakan kemampuan anak yang belum semestinya.

Baca juga : Tips Membuat Anak Doyan Sayur dan Buah

Perlu bagi orang tua tidak hanya mengajari namun juga memahami apa yang sedang dialami anak. Apabila ada tahap yang terlewat atau terhambat, orang tua tidak lantas memberikan tekanan pada anak. Ini bukan hanya membuat anak trauma juga mencederai fase tumbuh kembang anak pada umumnya. Jika psikologi anak terganggu, artinya anak tidak nyaman dengan dirinya, otot-otot dan yang lain juga enggan untuk berkembang.

Berbeda dengan anak yang bahagia dalam perkembangannya. Ia akan dengan bebas mengekspresikan dirinya dan mudah belajar atau menemukan hal-hal baru. Fungsi orang tua utamanya adalah mengontrol tumbuh kembang anak dan bukan menentukan perkembangannya apalagi dengan pressure yang tidak berdasar. Dengan demikian, anak diharapkan memiliki fase-fase tumbuh kembang yang sempurna dan menunjang kehidupannya kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Ajak Anak Anda Berbelanja Yuk!

Kegiatan berbelanja bulanan mungkin memang membosankan bagi Anda. Oleh karena itu, Anda bisa mengajak anak untuk bermain sambil…

Arti Sebuah Keluarga

Secara harfiah, setiap orang bebas mengartikan apa itu “keluarga”. Kita sering menjumpai arti keluarga yang didefinisikan oleh orang…

Konsep Keluarga Yang Sakinah

Beberapa dasawarsa belakangan ini, mewujudkan konsep keluarga sakinah seringkali hanya sebuah mimpi. Bukan karena orangnya yang bodoh melainkan…