Anak Suka Memukul, Jangan Marah Dulu!

Anak sejatinya adalah replika dari keluarganya. Anak yang baik biasanya selalu melihat perilaku yang baik di lingkungannya. Namun bagaimana bila Anda sudah mengajarkan yang terbaik lalu tiba-tiba anak menjadi suka memukul?

Jangan terburu-buru untuk marah apalagi mengungkapkan kemarahan pada anak. Apalagi dengan berteriak atau memaki dan menjuluki anak dengan kata-kata “nakal”.

Pada dasarnya anak tidak tahu apa itu nakal dan apa itu baik hati. Anak di bawah lima tahun misalnya memang belum bisa bersikap empati. Mereka sedang belajar mengenali emosinya sendiri. Apakah sedang marah, sakit, kesal, kecewa, bahagia dan lain sebagainya.

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan anak suka memukul. Alasan-alasan inilah yang seharusnya Anda cari karena anakpun tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Baca juga : Anak Sering Bertanya, Bunda Jangan Bohong

Anda mungkin saja selalu memperlakukan anak dengan baik dan sopan. Memberikan anak tata cara yang baik untuk berbuat ini dan itu. Namun, Anda juga perlu waspada dengan lingkungan lain. Misalnya televisi, keluarga dan tetangga dekat, atau bahkan perilaku negatif sang kakak.

Anda bisa menarik suatu garis waktu sebelum anak tiba-tiba suka memukul. Apakah ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk anak jadi sering memukul. Film kartun juga tidak selamanya baik untuk anak. Film kucing dan tikus yang berkejaran lalu saling pukul bisa menjadi contoh bagi anak untuk memukul.

Suatu saat ketika Anda membawa anak ke taman bermain atau daycare, anak tiba-tiba memukul temannya. Jangan terburu-buru untuk marah dan menasehati. Proses perkembangan komunikasi anak mungkin saja belum tuntas, apalagi pada waktu itu Anda baru pertama kali mengajaknya.

Perkembangan komunikasi anak dimulai dengan saling cuek namun beraktivitas berdampingan. Anak biasanya akan saling menatap tapi tidak berteguran. Ini karena anak sedang bereksperimen dengan dirinya dan anak lain.

Maka jika terjadi anak Anda memukul anak lain. Ini bisa saja mereka sedang bereksperimen. Jika anak lain yang dipukul menangis, anak biasanya juga ikut menangis.

Oleh karena itu, Anda benar-benar harus memperhatikan perilaku anak jika sedang berdekatan. Latihlah bersalaman dengan lembut kemudian memeluk. Ini akan lebih menenangkan anak.

Anda juga bisa memberi jarak aman bagi anak bila postur tubuh dan gerak anak-anak sangat berbeda. Misalnya terlalu pasif atau terlalu aktif. Sesuatu yang berbeda biasanya memancing anak untuk lebih berekspersimen dengan yang lain.

Jika anak sering memukul dengan tanpa sebab, ajarkan rasa sakit. Anda bisa mencontohkannya dengan memukulkan lengan kiri ke lengan kanan anak. Lalu disertai dengan penjelasan bahwa memukul itu meninggalkan rasa sakit.

Tidak ada satupun yang mau merasakan rasa sakit tersebut. Setelah mengerti, peluklah anak dan ajarkan bahwa tangan diciptakan untuk memeluk. Dengan demikian, anak perlahan mengerti bahwa pemukulan memang tidak layak untuk dilakukan.

Identifikasi masalah mungkin tidak bisa serta merta dilakukan dalam waktu singkat. Untuk mengurangi keagresifan anak, Anda bisa memberikan hukuman yang reflektif pada anak.

Reflektif artinya anak diberikan untuk memikirkan apa yang ia lakukan sebelumnya. Dengan ini, anak bisa mengurangi kadar emosi dan berpikir dengan tenang.

Anda bisa mendudukkan anak di ujung yang diberi nama pojok hukuman selama 1 hingga 2 menit. Biarkan anak menangis dan jangan pedulikan sedikitpun. Setelah masa hukuman selesai, hampirilah dia kemudian berikan pengertian. Jika mengerti, Anda bisa memeluknya dan memberikan rasa nyaman padanya.

Baca juga : Tips Membangun Kepercayaan Diri Anak

Nah, dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwa tidak ada satupun anak nakal di dunia ini. Anak hanya membutuhkan bimbingan dan tindakan yang tepat dalam masa tumbuh kembangnya. Keagresifan anak selalu memiliki sebab dan arti, misalnya anak sering menggigit karena giginya sedang bertumbuh.

Sebagai orang tua, usahakan untuk tidak marah pada anak dan di depan anak. Berikan anak situasi positif agar tumbuh kembangnya maksimal dan hanya hal positiflah yang bisa ia tiru. Perhatikan juga lingkungan anak, jangan sampai membawa dampak buruk bagi anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Arti Sebuah Keluarga

Secara harfiah, setiap orang bebas mengartikan apa itu “keluarga”. Kita sering menjumpai arti keluarga yang didefinisikan oleh orang…

Ajak Anak Anda Berbelanja Yuk!

Kegiatan berbelanja bulanan mungkin memang membosankan bagi Anda. Oleh karena itu, Anda bisa mengajak anak untuk bermain sambil…